Anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, Dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Dia akan belajar menentang
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan rasa malu, Dia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Dia belajar jadi penyabar
Jika anak dibesarkan dengan pujian, Dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, Dia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan peneguhan, Dia belajar untuk menyukai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, Dia belajar kesejatian
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Dia belajar untuk memercayai diri sendiri dan orang lain
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, Dia belajar bahwa dunia adalah tempat yang indah untuk hidup

Copyright 1972/1975 oleh Dorothy Law Nolte
Dikutip dari buku “Ibuku Guruku” oleh Marty Layne

Do’a Memohon Anak Shaleh

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”     Q.S Al-Furqon 74

Bagaimana anak menjadi cerdas dan kreatif?

Otak kita terdiri dari banyak sekali sel syaraf. Seorang menjadi cerdas kalau ia mampu mengaktifkan/menghubungkan sebanyak mungkin sel syaraf yang satu dengan yang lainnya.
Ini bisa dilakukan dengan:
1. Drilling (hanya proses awal) mengerjakan ribuan soal
2. Memasukan informasi sebanyak mungkin (berbagai soal dan berbagai kemungkinan solusi dianalisa).
Menurut Helmholtz proses kreatif tercipta ketika dalam otak terjadi masa saturasi (banyak input/informasi masuk) dan inkubasi (proses pengendapan dan penyerapan input-input tadi). Nah setelah kedua masa itu maka dalam otak itu terjadilah proses self organizing (pengaturan diri pada kondisi kritis/mestakung) yang memunculkan ide-ide cemerlang.
Fisikawan David Bohm menamakan proses kreatif ini dengan Metaphoric creation. Sedangkan peraih Nobel fisika Gellmann menamakannya dengan enlightment. Setelah proses enlightment hal yang sulit menjadi terlihat mudah.

Cara kerja otak bisa dilihat di video berikut ini:

Reference:
Facebook Account of Yohanes Surya (official)

Sekilas Montessori

Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode ini diterapkan terutama untuk anak usia 3 – 6 tahun, walaupun ada juga penerapannya pada anak usia yang kurang dari 3 tahun dan anak diatas 6 tahun.

Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak dan pengamatan klinis dari pembimbing, baik orang tua atau guru. Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik. Ciri lainnya adalah penggunaan peralatan (montessori material) untuk mempermudah mengenalkan anak berbagai konsep.

Metode Montessori mengenal lima area belajar utama yaitu, latihan kehidupan sehari-hari atau Exercise of Practical Life, pembelajaran melalui panca indra/sensorial, Bahasa/Language, Dunia Sekitar/Cultural, dan Matematika/Math.

Untuk mengetahui lebih detail mengenai metode Montessori, baca Montessori FAQ’s.

Untuk mengetahui kurikulum metode Montessori, baca Kurikulum Montessori.

References:

http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_Montessori